Rabu, 18 Januari 2012

Penurunan Mutu Musik Indonesia






















Belakangan ini ketika menonton acara-acara musik di TV swasta nasional ada beberapa hal yang tampaknya masih merupakan ciri khas media Indonesia: latah. Latah yang dulu biasanya diidap para orang yang lanjut usia di negeri-negeri Asia Tenggara kini menjangkiti para pebisnis yang menguasai media hiburan tanah air.

Saya kira dulu hanya sinetron Indonesia yang sangat jauh tertinggal mutunya dibanding serial TV negara-negara seperti Amerika dan Asia Timur. Waktu saya remaja pada akhir 90 an hingga awal 2000an, saya sangat bersyukur akan mutu musik Indonesia yang menurut saya gak malu-maluin waktu itu. Perbedaannya dengan musik Amerika hanyalah selera dan bukan pada mutunya. Bahkan lagu-lagu Indonesia banyak dialih bahasakan di beberapa negara seperti Taiwan dan India, bahkan Amerika.

Sheila on 7 - Sephia



Qi Qin (Penyanyi Taiwan) - Sophia



Namun hal itu berubah semenjak menjamurnya band-band kacangan dengan mutu gorengannya yang laris manis di penjualan RBT.


Musik Indonesia Dulu

Lagu-lagu Nasional

Musik Indonesia sedari awal sudah sangat bermutu. Komposer-komposer Indonesia seperti WR Supratman sangat patut mendapat tempat di Musik kita. Sejak zaman pra kemerdekaan, musisi-musisi Indonesia yang menulis lagu-lagu wajib nasional menurut saya lebih unggul dibanding kebanyakan musisi di negara-negara berkembang lainnya. Coba saja dengarkan lagu-lagu nasional kita seperti Indonesia Raya dengan lagu-lagu nasional negara-negara lainnya, terdengar lebih kan secara mutu.


Lagu Anak-anak

Lagu-lagu anak pada waktu kita kecil pun selain memiliki lirik yang mendidik juga memiliki melodi yang baik. Pencipta lagu anak-anak seperti Ibu Sud, AT Mahmud, Pak Kasur, dll. Coba bandingkan melodi lagu "Pergi Belajar" atau lebih dikenal dengan liriknya "Oh Ibu dan ayah selamat pagi" ciptaan Ibu Sud dengan lagu anak-anak berbahasa Inggris seperti "Twinkle-twinkle", "Old McDonald", "BINGO". Lagunya Ibu Sud mengajarkan moral, sementara lagu-lagu yang tingkatnya lebih internasional hanya mengajarkan melodi. Lagu-lagu anak-Indonesia walaupun tidak semuanya, unggul di syair yang mengandung pesan moral untuk anak dengan melodi yang relatif sama mutunya (kalau bukan lebih baik) dengan lagu-lagu anak berbahasa Inggris.

Saat memasuki masa komersialisasi pun, saya kira Indonesia sangat maju untuk lagu anak-anak komersil. Penyanyi-penyanyi anak seperti Melisa, Enno Lerian, Bondan Prakoso, Agnes Monica, Trio Kwek-kwek, dll pada tahun 90an tampaknya tidak memiliki rekan di negara-negara lain seperti Amerika Serikat yang unggul di Industri Musik secara keseluruhan. dan itu bahkan dimulai pada dekade sebelum 90an. Seperti penyanyi anak Cica Koeswoyo dll yang saya belum lahir pada masa mereka.


Lagu Dewasa

Saat mendengar lagunya Michael Jackson "I'll Be There" saya langsung teringat lagu yang jauh lebih lawas  "Surat Undangan." Adalah mustahil lagu Surat Undangan yang dibawakan Rita Zaharah pada tahun 1958 menjiplak lagu "I'll Be There" yang baru dikeluarkan tahun 1970. Yang pasti sebaliknya.









Selain itu sebenarnya masih banyak lagu-lagu karya musisi Indonesia yang sangat memiliki kelas. Musisi Indonesia seperti Almarhun Elfa Seciora dengan paduan suara didikannya banyak memenangi festival di tingkat dunia. Penyanyi-penyanyi sekelas Ruth Sahanaya, Trie Utami dan yang masih belia Gita Gutawa bahkan mengungguli peserta-peserta negara lain pada festival-festival internasional dengan skor yang jauh lebih tinggi.

Dan yang pasti bandingkan saja Anggun C Sasmi dengan para girl band Korea. Penikmat musik yang waras pasti bisa membedakan dengan baik.

Pernah dengar gak lagunya Monica - Angel of Mine? Tidak mungkin kebetulan mirip lagunya Girlband Indonesia 90 an Bening dengan lagu mereka "Apa Yang Kau Rasakan" yang dirilis kira-kira setahun sebelumnya. Bahkan sampai intro musiknya mirip. Namun, karena posisi mereka sebagai musisi negara Super Power itu lebih internasional dibanding musisi kita yang hanya setaraf ASEAN. Ya, nggak ada yang peduli kan? Tapi itu musik Indonesia sebelum era RBT.

Bening - Apa Yang Kau Rasakan


Monica - Angel of Mine



Musik Indonesia Sekarang

Menurunnya jumlah penjualan CD dan kaset dan meningkatnya nilai komersil dari RBT adalah pukulan telak untuk mutu musik Indonesia. Musisi Indonesia secara umum bersyukur dengan maraknya RBT. Karena untuk menutupi kerugian dari penjualan album asli yang kalah dengan bajakan, RBT memberikan kontribusi yang sangat baik bagi mereka.

Tapi sepertinya hal itu lebih berguna bagi para band yang lagunya dijadikan RBT oleh para penikmat musik Indonesia yang sedikit rendah tingkat intelektualnya. Tentu saya tidak akan menyebutkan nama-nama band tersebut. Yang jelas dari segi melodi lagu dan musik selain banyak menjiplak band-band luar, musik-musik mereka terdengar sangat kampungan untuk telinga saya.

Yang terparah adalah lirik (syair). Ide cerita dari lagu-lagu mereka beserta pilihan kata yang mereka rangkai sangatlah menunjukkan ketidakadaan unsur manusia yang memiliki intelegensia yang baik.

Prihatinnya tidak adanya lagu-lagu anak yang dinyanyikan anak-anak dan bersyair yang pas untuk anak-anak pada masa kini. Yang ada, anak-anak menyanyikan lagu dengan syair yang lebih pantas untuk remaja dan dewasa. To make things worst, para penyanyi anak yang tidak memiliki suara yang sebaik penyanyi anak zaman dulu itu turut tampil di acara musik anak muda. Ini yang membuat saya semakin tidak bisa menikmati acara musik Indonesia kebanyakan lagi.

Lalu pilihan musik pun saya jatuhkan pada musisi-musisi Indonesia 2008 ke bawah seperti Yovie n Nuno, Peterpan, dan Sheila on 7 yang jauh lebih pantas disebut musisi dibanding band-band sekarang yang lebih pantas disebut pengamen.


Latahnya TV-TV Swasta

Acara musik pagi yang dimulai SCTV dengan Inbox-nya menjadi trendsetter untuk TV-TV lain membuat tayangan serupa. Seperti RCTI dengan Dahsyat, Trans TV dengan Dering dan Indosiar dengan Hitzterianya. Dan tak ketinggalan ANteve  serta Global TV yang membuat acara musik mereka pada sore hari.

Yang jadi pokok pembicaraan bukan soal kelatahan mereka dalam membuat tayangan musik. Tapi pada para penyanyi dan band yang mereka pilih untuk tampil di acara tersebut. Alih-alih mereka menampilkan musisi dan penyanyi yang memiliki mutu baik, mereka menampilkan para band plagiat, anak-anak bau kencur dengan koreografi asal-asalannya serta penyanyi dari pemain sinetron yang bersuara tidak enak didengar. Semuanya hampir seragam, lebih memilih kelatahan dibanding mutu. Kalau yang seragam itu baik mutunya tentulah tak apa.

Dan sekarang ditengah gempuran Korean Wave menjamurlah boyband dan girlband di Musik Indonesia. Bedanya, para boyband dan girlband Korea itu melalui tahap audisi yang ketat, dan masa training yang baik secara waktu dan keintensifannya. Mereka berada dibawah manajemen profesional dengan produser-produser musik yang secara serius menggembleng mereka sehingga layak "dijual" di Asia bahkan dunia.

Beda dengan para boyband dan girlband Indonesia kini. Beda banget dengan AB Three dan Trio Libels.
Boyband dan Girlband Indonesia sekarang itu kebanyakan hanya punya satu single, dengan koreografi yang hanya itu itu dan sangat tidak inovatif. Saya heran entah dibidang mananya mereka punya nilai jual. Dari tampang banyak juga yang tidak layak, dari suara apalagi, dari koregrafi sudah jauh lebih baik peserta Indonesia Mencari Bakat.

Untuk kedepannya saya tidak melihat adanya lagi kepantasan untuk tetap memberikan ruang pada para penyanyi dengan mutu penyanyi kamar mandi dan band-band dengan mutu anak balita yang menabuh drum untuk berjaya di Musik Indonesia. Mereka telah merendahkan mutu Musik Indonesia seperti mutu Sinetron. Lebih baik menikmati musik Amerika dibanding musik dari band gak mutu seperti itu.

Tapi para penikmat musik Indonesia seperti saya ini tampaknya tidak punya pilihan  lain selain mematikan TV dan menikmati musik di MP3 player saya serta tentunya YouTube di mana saya punya pilihan . Ya nggak. :)





Teddy Amry

Senin, 09 Januari 2012

Memberikan Label Kepada Anak

Anak Kreatif         
Ada seorang ibu sedang berbelanja di supermarket bersama anaknya yang cukup aktif. Anak tersebut menjatuhkan beberapa barang di rak. Langsung saja ibunya berteriak marah, "Dasar anak bodoh, cepat rapikan." Ada ibu lainnya yang juga berbelanja di supermarket yang sama.

Dia juga membawa anaknya yang juga sama aktifnya. (namanya juga anak-anak). Si anak mengambil sebungkus makanan ringan dan tanpa disadarinya menjatuhkan beberapa barang dari rak yang membuatnya berserakan di lantai. Si ibu menegur si anak dengan mengatakan, "Itu perbuatan bodoh. Hati-hati kalau mengambil benda." (Diceritakan kembali dari buku Ajahn Brahm: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.)

Ibu yang pertama melabelkan "BODOH" pada anaknya sementara ibu kedua mengajarkan anaknya untuk tidak berbuat "BODOH".

Penting sekali untuk mengajarkan anak apa yang baik dilakukannya dan menunjukkan hal-hal yang dia dapat untuk tidak melakukannya. namun jika kita mencap si anak dengan perkataan tertentu apalagi kata-kata seperti "anak bodoh" "anak durhaka" "pemalas" dsb, itu artinya sama saja kita membentuk anak tersebut sesuai kata-kata tersebut. Miris sekali bukan? Apalagi kalau anak tersebut anak kita sendiri.

Walaupun kadang apa yang dilakukan si anak tidak sesuai dengan yang kita kehendaki, haram hukumnya mencap si anak dengan kata-kata yang tidak pantas. Alih-alih kita dapat menunjukkan bahwa perbuatan yang dilakukannya tersebut tidak pantas untuk dilakukan. Maka dalam hal ini  yang tidak baik adalah perbuatannya. Bukan si anak itu sendiri.

Mengapa itu sangat penting? Oh ya jelas sangat teramat penting. Karena....
Tahukah anda bahwa bagaimana cara berpikir kita sebagai oranng dewasa sangat ditentukan beberapa tahap perkembangan mental yang bahkan dimulai sebelum pembentukan embrio sampai dengan masa kanak-kanak usia 7 tahun.

Kemampuan akademis seorang anak, tingkat kecerdasannya dalam menghadapi persoalan hidup, kemampuan-kemampuan produktifitasa, kerentanan terhadap stress dan banyak faktor psikologis lainnya yang sangat berpengaruh terhadap mutu kehidupan yang dapat diraihnya bergantung banyak dari bagaimana ia dididik. Dan pendidikan yang paling utama bukanlah matematika dan sains, tapi mentalitas.

Jangan pernah mengucapkan "ah itu cuma sugesti." Karena sugesti itu adalah segala-galanya. Saya ulangi, "SUGESTI itu adalah segala-galanya."

Banyak diantara kita orang-orang dewasa yang sebenarnya memiliki potensi yang jauh melebihi apa yang kita kira kita miliki. Sangat banyak orang-orang ber IQ tinggi yang cuma jadi pegawai rendahan jika tidak dikatakan miskin, apalagi untuk tingkat pendidikannya. Itu karena apa? Banyak ditentukan bagaimana seseorang memandang ke dalam dirinya sendiri. Tentang label-label yang ia terima yang kebanyakan didapat dari perkataan-perkataan orang-orang terdekat seseorang terutama pada masa ia 7 tahun ke bawah.

Seseorang anak ber IQ tinggi dapat sangat sulit mengerjakan soal-soal Matematika yang relatif mudah jika saja dulu ia pernah sangat ketakutan dan menerima perkataan seperti "Kamu ini anak bodoh, soal matematika mudah saja kamu tidak bisa!" ditujukan untuk dirinya. Begitu juga jika ia sebagai orang yang sebenarnya memiliki potensi yang baik sewaktu kecil menerima perkataan dari orang tuanya seperti ini, "Kita ini orang susah, cari uang itu sulit." besar kemungkinan anak tsb pada masa dewasanya benar-benar akan kesulitan di bidang finansialnya.

Dan hal-hal lain sebagainya. Ketahuilah: "Bagaimana kita hidup ditentukan oleh pikiran kita."
Jadi selalulah berkata baik untuk diri sendiri. Jangan pernah memberi label apapun kepada seorang anak apalagi label yang buruk Biarkan mereka tumbuh dewasa atas pilihan-pilihan mereka sendiri. Jika ada perbuatan mereka yang kurang ajar, katakan pada mereka bahwa perbuatan itu ynag kurang ajar atau tidak sopan, jangan katakan bahwa merekanya yang kurang ajar. Maka lain waktu nak tersebut tidak akan mengulanginya, atau paling tidak pada masa yang akan datang. Jika seorang anak melakukan hal-hal yang mungkin kita sebut bodoh, katakan padanya bahwa perbuatannya yang bodoh, jangan katakan pada mereka bahwa mereka bodoh.

Bagaimana konsep diri kita menentukan bagaimana hidup kita.


Teddy Amry


Bacaan lebih lanjut:

Psikologi Positif
Peran Orangtua Menunjang Keberhasilan Hidup Anak

Rabu, 07 September 2011

Jangan Khawatir. Tenanglah. :)

Pagi ini saya menemukan satu gambar yang tersebar di jejaring sosial Google Plus. Saya merasa gambar yang sederhana ini sangat berguna untuk dapat kita jadikan cara berpikir kita yang baru dalam menghadapi sesuatu hal yang biasa disebut masalah. Berikut gambarnya:

Don't Worry

Dan yang ini setelah ganti bahasanya:

Jangan khawatir.

Konsep ini sebenarnya sudah lama tersirat di benak saya. Namun menurut saya gambar ini mampu menjabarkannya menjadi lebih gamblang dan dan sederhana. Sebenarnya kalau kita bersedia untuk melihat  peristiwa lalu memeriksa ke "dalam" bagian kita yang merasa tidak nyaman/khawatir terhadap sesuatu lalu menyebutnya masalah, maka kita akan menemukan bahwa kita tidak perlu khawatir.

1. Kalau kita merasa dapat melakukan sesuatu terhadapnya peristiwa itu, maka lakukanlah untuk membuatnya paling tidak lebih sesuai dengan keinginan kita. Lalu, dengan begitu kita tidak akan khawatir kan?

2. Sebaliknya, kalau kita merasa tidak berdaya akannya, mengapa pusing? Biarkan aja. Mau diapain lagi. Seburuk-buruknya sesuatu yang terjadi pada kita, kalau kita tidak bisa berbuat apa-apa, maka sambutlah. Biarkan saja terjadi kalau sudah harus terjadi. Yang sudah-sudah kalau kita sudah berserah, justru malah gak ada yang seserius itu ternyata. :)


To keep it simple, just see, think, and execute. :)


Teddy Amry

Kamis, 16 September 2010

Menyalahkan Pemerintah: Apakah Perlu?



Menurut saya:

"Kalau kita bersedia mengambil tanggung jawab seutuhnya atas hidup kita, maka kita akan berhenti mempersalahkan orang-orang lain atas apapun yang terjadi dalam hidup kita."


Tulisan ini saya buat bukan karena saya memihak atas pemerintahan yang sedang berkuasa apalagi saya turut menikmati hasil-hasil yang tidak pantas dari anggota parlemen negara ini.

Saya menulis ini dikarenakan saya merasakan keperhatinan yang sangat mendalam atas maraknya berbagai pihak yang selalu mencerca para petinggi negara baik itu pemerintah ataupun badan legislatif DPR.

Okelah mungkin Presiden kita kurang tegas dan dengan segala kemampuannya bagi sebagian orang dia terkesan lamban dan ragu-ragu. Mungkin juga banyak pihak yang lebih menyukai Jusuf Kalla dibandingkan wakil presiden yang sekarang Pak Boediono.

Namun tipe orang-orang tersebut hanyalah orang yang suka mencari-cari kekurangan dan cela orang lain.

Kita sadari di setiap masa pemerintahan di negara manapun selalu ada saja pihak-pihak yang tidak menyukai para pemimpin mereka.

Kita melihat dulu sewaktu orde baru masih berkuasa, ada pihak-pihak yang tidak menyukai kediktatoran Pak Harto di jaman itu. Lebih-lebih ketika beliau baru saja mengundurkan diri pada 21 mei 1998, saya masih ingat bahkan anak-anak yang baru bisa bicara hingga kakek nenek tak henti-hentinya menghujat Presiden RI ke-2 tersebut.

Namun keadaan terbalik 180 derajat tatkala kondisi negara yang kita cintai bukan membaik namun justru memburuk. Orang-orang yang sama yang dulu menghujat dan menyumpah serapah kini mengagung-agungkan beliau ketika dirasa kondisi ekonomi dan bermasyarakat jauh lebih tenteram pada masa pemerintahannya.

Saya sendiri tidak termasuk orang-orang yang menghujat beliau pada masa apapun dan tidak mengagung-agungkan beliau sampai kapanpun.

Sebagai anak bangsa dan masih sebagai rakyat biasa, saya bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada Pak Harto (senoga dia sejahtera di alam sana) atas semua jasa-jasanya selama 32 tahun mengabdi untuk negeri ini. Saya yakin semua orang punya salah karena kita tidak sempurna. Kita sadari siapa sih yang tidak meiliki aib dan dosa? Kita bukan Nabi kan? Begitu pula Semua pemimpin-pemimpin kita baik yang telah lalu dan yang masih berkuasa.

Sekarang setelah 12 tahun paska orde baru, kondisi perekonomian negara kita jauh lebih baik dibanding Krisis Keuangan Asia tahun 1997 - 1998. Bahkan negara-negara maju dunia menghadapi Krisis Ekonomi Global. Untunglah negara kita tidak begitu terpengaruh walaupun mengalami sedikit perlambatan pertumbuhan ekonomi dan penurunan jumlah ekspor. Ini dikarenakan negara berpenduduk 240 juta ini tidak terlalu bergantung pertumbuhan ekonominya terhadap ekspor namun lebih kepada konsumsi dalam negeri yang menyumbang lebih dari separuh PDB.

Namun pihak-pihak tertentu masih menyangkal hal yang patut disyukuri itu dengan mengatakan "Indonesia ini sudah mampu bertahan dari terpaan krisis dengan sendirinya dikarenakan kita memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dengan jumlah penduduk yang besar yang mampu menyerap produk barang dan jasa tanpa harus terlalu bergantung pada ekspor." Saya ragu apakah orang-orang tersebut mampu mengurus negara sekompleks Indonesia ini.

Sekali lagi saya tidak berada di pihak pemerintah atau manapun. Saya hanya menyampaikan suara hati saya, "Please be fair." Pemimpin kita sudah dibebani begitu banyak PR mengurus negara ke-4 terbesar di dunia ini dengan segala permasalahan yang dihadapinya. Jadi tolong dong jangan menambah beban pemikiran lagi kepada mereka. Biarkan Bapak-bapak dan Ibu-ibu di sana bekerja dengan tenang tanpa harus kalian ganggu. Apakah kalian mampu lebih baik dari mereka? Lalu apakah kalian terpilih? Tidak kan. Tidak cukup orang bersedia memilih kalian. Diam dulu ya.

Selasa, 08 Juni 2010

Menyikapi Kepedulian

Teddy Amry



Saya kira peduli bukan berarti kita harus tahu segala detil apa yang terjadi kepada orang/ apapun yang kita pedulikan tersebut.

Jumat, 04 Juni 2010

Belajar dari Bayi: Ketangguhan

“Ketika satu pintu tertutup, pintu-pintu lain terbuka. Namun kita terlalu lama memandangi pintu yang tertutup itu dengan penuh penyesalan. Sehingga tidak melihat pintu-pintu lain yang dibukakan untuk kita“


Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata bayi? Lemah, menangis, polos, tidak bisa melakukan segala hal sendiri? Mungkin mereka lucu.
Tapi ketahuilah ada banyak anugerah Tuhan yang belum disadari oleh banyak orang melekat pada diri seorang bayi. Ada begitu banyak keistimewaan yang saya, anda, dan semua orang miliki ketika kita masih merupakan seorang mahluk kecil yang belum terkontaminasi.
Mengapa saya katakan belum terkontaminasi atau belum tercemar? Semua adalah karena seiring berjalannya waktu kita kehilangan atau mengabaikan bakat-bakat alami tersebut. Namun kita hanya membicarakan salah satu saja dari semua itu: Ketangguhan!

Kita melihat orang-orang yang begitu bersemangat melakukan suatu hal. Lalu kemudian gagal dan sampai hari ini memvonis diri mereka sendiri tidak mampu melakukan hal tersebut. Mereka mengurung diri secara fisik dan psikologis dari setiap kesempatan lain yang datang untuk mengulangi atau mencoba sesuatu hal baru untuk kesuksesan mereka. Oleh karena itu, kita memiliki sebuah dunia yang dipenuhi orang-orang yang putus asa dan menganggap diri mereka gagal. Padahal TIDAK.
Semua hanya karena perasaan JERA.
“Jera dalam berupaya untuk mendapat hal-hal baik untuk hidup kita adalah seperti mengikat tali pada sebatang pohon ke satu kaki di saat kaki yang lain berusaha berjalan. Itu bodoh!”
Padahal…
Perhatikanlah bayi yang baru belajar jalan! Saat kita membantunya untuk pertama kali berdiri. Dia bahkan tidak sanggup melakukannya. Kaki-kakinya yang mungil itu belum terbiasa menopang bobot tubuhnya. Berkali-kali, lagi dan lagi kita membantunya berdiri. Dia jatuh lagi. Tapi apa, dia tetap bangkit lagi.
Bayi ini akhirnya dapat berdiri sendiri tanpa bantuan kita lagi. Wuh, melelahkan juga.
Kemudian kita membantunya berjalan. Dia jatuh, tak kuat melangkah. Pertama-tama dia menangis. Lalu diam dan berdiri lagi. Dan berjalan lagi. Apakah dia menyerah di percobaan pertama? Apakah kita yang menyerah mengajarinya berjalan. Pastinya tidak!
Dan waktupun berlalu. Kini bayi itu bahkan dapat berlari. Dan sekarang sedang membaca tulisan ini. J
Bayangkan kalau bayi-bayi di dunia ini mudah menyerah!
Tidak ada manusia yang dapat berjalan. Dan kalau begitu yang ada hanyalah mahluk-mahluk yang berjalan dengan empat kaki.
Namun…..
Terpujilah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!
Setiap dari kita sesungguhnya memiliki bakat ketangguhan. Itu alamiah! Seorang bayi bahkan tidak perlu motivator sekelas Anthony Robbin atau Mario Teguh memotivasinya untuk dapat berdiri sendiri kemudian berjalan.
Mereka tidak pernah patah semangat lalu menyerah dan menyalahkan NASIB.
Padahal Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau mereka sendiri tidak mengubah nasib mereka sendiri.
“Bila ku terjatuh nanti, ku kan siap tuk melompat lebih tinggi”
(Sheila on 7)
Ketangguhan itu tidak harus kita dapatkan dari orang lain. Yang kita perlukan hanyalah kembali kepada fitrah kita. Kembali menjadi tangguh seperti kita dulu. Mensyukuri anugerah-NYA. Itu saja.
Kalau setiap orang yang berupaya tangguh seperti bayi ketika belajar jalan. Kala mereka jatuh lalu langsung bangkit lagi. Maka kita akan melihat sebuah dunia benar-benar Luar Biasa.

 

Teddy Amry Powered by Blogger